logoblog

Cari

Rencana Penambangan Pasir Besi Resahkan Masyarakat

Rencana Penambangan Pasir Besi Resahkan Masyarakat

Sejak tahun 2005 Pemerintah Kabupaten Lombok Timur memiliki rencana untuk melakukan Penambangan Pasir Besi di sekitar pesisir Pantai Kecamatan Pringgabaya dan

Pengaduan Lain-Lain

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
30 April, 2014 16:05:15
Pengaduan Lain-Lain
Komentar: 1
Dibaca: 20069 Kali

Sejak 2005 Pemerintah Kabupaten Lombok Timur memiliki rencana untuk melakukan penambangan pasir besi di sekitar pesisir pantai Kecamatan Pringgabaya dan sekitarnya. Berbagai cara telah dilaksanakan oleh pihak pemerintah bersama beberapa perusahaan yang bergerak di bidang penggalian pasir besi. Hanya saja masyarakat tetap melakukan berbagai aksi penolakan terhadap rencana penambangan tersebut.

Pada awalnya rencana penambangan pasir besi di Kecamatan Pringgabaya ini direspon positif oleh masyarakat setempat, sebab cara-cara sosialisasi pemerintah pada saat itu lumayan menyita simpati masyarakat. Pada perkembangannya masyarakat mulai merasa resah atas rencana itu dan keresahan itu mulai muncul pada pertengahan 2008. Penolakan ini dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari cara-cara kooperatif hingga cara yang anarkis. Masyarakat sudah jenuh dengan janji-janji muluk pemerintah dan sangat takut akan dampak dilakukannya penambangan.

Munculnya perlawanan masyarakat terhadap rencana penambangan pasir besi di sekitar Kecamatan Pringgabaya ini diawali dengan tersebarnya selebaran yang berisi tentang analisis dampak lingkungan penambangan pasir besi ini. Hal ini terjadi pada pertengahan 2008, dimana selebaran analisis dampak lingkungan yang sebagian besarnya berisi tentang dampak negatif yang akan dirasakan masyarakat sekitar lingkar tambang apabila penambangan pasir besi dilakukan.

Keresahan itu terus berkecamuk dalam benak masyarakat Kecamatan Peringgabaya, terutama masyarakat yang ada di sekitar pesisir, seperti masyarakat Dusun Sukamulia, Gegurun, Dasan Pancor, Bagik Gaet, dan Aik Sepolong, Desa Pohgading Timur. Masyrakat Dusun Ketapang, Desa Pohgading Induk, masyarakat Dasan Geres dan Dusun Bagek Atas, Desa Batuyang, serta masyarakat Dusun Ketapang, Desa Peringgabaya.

Hingga awal 2010 keadaan masih adem ayem. Penolakan yang dilakukan masyarakat masih dingin. Artinya, masyarakat hanya melakukan penolakan tanpa melakukan tindakan-tindakan anarkis. Situasi mulai memanas sejak Bupati Lombok Timur (Sukiman) melakukan sosialisasi tetang Rencana Kegiatan Penambangan Pasir Besi di Kantor Camat Pringgbaya yang dilaksanakan pada pertengahan April 2010. Pada saat itu masyarakat Pringgabaya sangat marah mendengar pernyataan yang diungkapkan oleh Bapak Bupati sehingga mereka melakukan tindakan anarkis yang menyebabkan rusaknya beberapa kendaraan dinas yang dibawa oleh tim sosialisasi pada saat itu, kejadian itu juga menyebabkan Bupati Lotim luka memar akibat terkena lemparan warga.

Penolakan terus dilakukan masyarakat meski gaungnya belum bisa menembus media nasional. Pada 2010 Pemda Lombok Timur mengeluarkan Surat Keputusan Izin Ekplorasi untuk PT. Anugrah Mitra Geraha. Informasi tentang diterbitkannya izin tersebut sampai jua ke telinga masyarakat. Sehingga, masyarakat semakin tersulut untuk melakukan perlawanan. Sejak itu, rentetan konflik terus terjadi, terutama di Desa Pohgading Timur, Kecamatan Peringgabaya.

Sepanjang 2010, masyarakat Desa Pohgading Timur yang konsentrasi penolakannya tersentral pada masyarakat Dusun Sukamulia melakukan pergerakan dengan berbagai cara dan melibatkan masyarakat-masyarakat di sekitarnya, terutama masyarakat Dusun Dedalpak, Desa Pohgading yang juga berada di pinggir pantai. Pada 2010 tercatat 3 kali terjadi bentrokan antara tim peneliti AMG dengan masyarakat Dusun Sukamulia dan Dusun Dedalpak. Apapun yang terjadi, kedua dusun ini selalu saling berkoordinasi. Hanya saja pada pertengahan 2011, kekompakan dan kerja sama mereka dalam melakukan perlawanan terhadap cakar-cakar infrealisme dapat dipecah oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Hingga pertengahan 2011 tercatat empat kali terjadi tragedi (bentrokan antara pihak PT. AMG dengan masyarakat Dusun Sukamulia dan Dusun Dedalpak. Peristiwa itu adalah penghadangan dan perusakan mobil Tim Peneliti AMG yang dilakukan di depan masjid Dusun Gegurun, pengejaran Tim Peneliti AMG di pantai Dusun Dedalpak, pengejaran Tim Peneliti AMG di Dusun Bagik Atas, dan kejadian yang lumayan besar adalah Pengejaran Tim Peneliti AMG yang berasal dari Negara Cina yang mengakibatkan 5 orang dari tim peneliti itu harus kritis akibat dihakimi oleh massa. Peristiwa ini menyebabkan 6 orang warga Dusun Sukamulia harus berhadapan dengan pihak Kepolisian Lombok Timur, namun syukurnya keenam orang warga tersebut tidak terbukti melakukan pemukulan dan perusakan mobil tim peneliti tersebut, sehingga mereka dapat terbebas dari jeratan hukum.

Isu rencana penambangan terus berkembang dalam kehidupan masyarakat Kecamatan Pringgabaya. Keresahan timbul di mana-mana, lebih-lebih dengan didatangkannya alat-alat berat PT. Anugerah Mitra Geraha pada sekitar 2012. Hal ini semakin menyulut semangat penolakan warga yang ahirnya pada ahir 2012 hingga ahir 2013, Pemda Lombok Timur membekukan rencana penambangan. Sebab pihak Pemerintah Daerah akan terlibat dalam pelaksanaan kegiatan politik yang lumayan menyita waktu dan tenaganya, sehingga sepanjang 2013 Pemda Lotim hanya terfokus pada persiapan pelaksanaan Pilkada.

Meskipun demikian, masyarakat Pringgabaya dan sekitarnya terus mewanti-wanti munculnya berbagai kegiatan Investor dan Pemda yang hendak melakukan penambangan. Sekitar dua bulan setelah Pilkada dan Ali BD dilantik sebagai Bupati Lotim, isu rencana penambangan pasir besi mencuat lagi. Hal ini disebabkan oleh adanya kegiatan pembangunan basecamp AMG di sekitar pantai Ketapang, Desa Peringgbaya. Warga Ketapang memberikan izin terhadap pembangunan Camp itu sebab mereka diiming-iming bahawa di sana akan didirikan PLTA bukan tambang pasir besi.

Ahirnya, pada ahir Januari 2013 terjadi peristiwa yang cukup menyita perhatian banyak pihak. Warga Kecamatan Pringgabaya beramai-ramai mendatangi Camp PT. AMG yang didirikan di tepi pantai Ketapang. Ratusan warga Kecamatan Pringgabaya yang dihantui rasa resah dan kemarahan, ahirnya membakar Camp PT. Anugerah Mitra Geraha. Kemarahan warga pada saat itu tidak dapat dikendalikan oleh pihak Kepolisian Lombok Timur dan Camat Peringgbaya. Tanggal 31 Januari terjadilah kesepakatan antara masyarakat dengan pihak Pemda yang diwakili oleh Camat Peringgbaya dan Kapolres Lotim. Kesepakan itu adalah “JIKA DALAM JANGKA SEPULUH HARI PT. AMG TIDAK MENGANGKUT BARANG-BARANGNYA DARI PANTAI KETEPANG, MAKA MASYARAKAT AKAN MEMAKSNYA UNTUK MEMBERESI BARANG-BARANG ITU.

 

Baca Juga :


Sepuluh hari lamanya masyarakat menunggu PT. AMG memberesi alat beratnya yang ada di Pantai Ketapang, namun tidak sedikitpun alat berat itu yang bergeming dari tempanya. Melihat kondisi itu, masyarakat Pringgbaya berbondong-bondong ke Kantor Camat Pringgbaya untuk menuntut janji Bapak Camat. Hanya saja mereka tidak bisa bertemu dengan Bapak Camat dengan berbagai alasan yang diberikan oleh beberapa staf Kecamatan Pringgabaya, ahirnya warga pulang dengan tangan hampa. Sementara pengamanan di lokasi Camp PT. AMG semakin diperketat dengan pengiriman polisi.

Keresahan dan kemarahan semakin membara di hati warga Kecamatan Pringgbaya, sehingga pada 17 Februari 2014 mereka berbondong-bondong mendatangi Camp PT. AMG. Konflik tidak bisa dihindarkan dan pada hari itu terjadilah benterokan antara pihak Kepolisian dengan warga yang melakukan aksi. Peristiwa itu tidak menimbulkan korban jiwa, hanya saja 2 orang anggota polisi menjadi bulan-bulanan warga dan satu unit mobil patrol Polsek Pringgbaya hangus terbakar akibat kemarahan warga atas perbuatan aksi polisi yang mengamankan 2 orang warga Dusun Ketapang di TKP.

Hangusnya mobil patrol dan 2 orang anggota polisi yang dihakimi oleh massa kemudian menyulut kemarahan pihak kepolisian, sehingga polisi melakukan gerakan yang cukup berutal. Polisi kemudian melepaskan tembakan yang tidak beralasan dan tanpa arah, hal ini menyebabkan beberapa orang warga terkena luka tembak. Keberutalan polisi juga terlihat ketika mereka menyisir dan mengumpulkan sepeda motor warga yang berada di sekitar tempat kejadian. Sepeda motor yang dapat dikumpulkan itu, kemudian ditumpuk seperti tumpukan kayu lalu dipuku dan diinjak-injak dengan garang. Sepeda motor itu kemudian diangkut ke Resort Selong.

Pagi hari 18 Februari 2014, ratusan anggota kepolisian Lotim melakukan penyisiran di Dusun Ketapang dan sekitarnya. Penyisiran ini menyebabkan 40-an orang warga Dusun Ketapang diamankan dengan paksa ke Resot Selong untuk dimintai keterangan tentang kejadian kemari dan kejadian beberapa minggu lalu. Siang harinya, sekitar 800-an orang personil polisi melakukan penangkapan terhadap 2 orang warga Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur. Namun pada hari itu, pihak kepolisian memberkuk 6 warga Dusun Sukamulia.

Dari 40-an warga Kecamatan Pringgabaya yang diamankan tersebut, 10 orang harus ditahan dan sisanya dipulangkan setelah diperiksa, namun mereka dikenai wajib lapor ke Polsek Peringgbaya tiap Senin dan Kamis setiap minggu. Hal ini menyebabkan warga semakin resah atas rencana penambangan pasir besi yang tidak juga dihentikan oleh Pemda Lotim. Kini 10 orang warga Kecamatan Peringgabaya harus membekuk di dalam tahanan sebab mereka telah dijadikan tersangka melakukan tindakan anarkis pada rentetan aksi penolakan tambang pasir besi pada 30 Januari 2014, 31 Januari 2014, dan 17 Februari 2014. 10 orang tersangka itu terdiri dari 8 warga Dusun Ketapang, Desa Pringgabaya (6 orang laki-laki dan 2 orang perempuan) dan 2 warga Dusun Sukamulia, Desa Pohgading Timur.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh Kepala Desa bersama warga Desa Pohgading Timur dan Kepala Desa Pringgabaya beserta warganya untuk membebaskan 10 orang warga yang ditahan tersebut. Hanya saja, smua usaha itu sia-sia belaka sehingga sampai saat ini 10 orang warga Kecamatan Pringgbaya dimaksud masih berada di LP Selong. Kini mereka hanya bisa pasrah menunggu jadwal persidangan dan mereka berharap putusan persidangan nanti tidak terlalu memberatkan mereka dan setelah persidangan mereka bisa dikembalikan ke kepada keluarga mereka.

Keluarga tersangka dan warga Kecamatan Pringgabaya berharap supaya Pemerintah Daerah Lombok Timur, Pimprov NTB, dan pihak-pihak terkait memberikan kebijakan supaya 10 orang tersangka yang sekaramg sedang menunggu jadwal persidangan itu dapat dibebaskan dengan segera. Selain itu, warga Kecamatan Pringgabaya juga sangat berharap supaya Pemda Lotim dan Pemprov NTB berkenan mendengar aspirasi mereka supaya rencana penambangan pasir besi dibatalkan dengan mencabut izin ekplorasi yang telah dikantongi oleh PT. Anugerah Mitra Geraha dan tidak memberikan izin eksplorasi ataupun izin eksploitasi baru kepada investor lainnya, supaya keadaan masyarakat menjadi lebih kondusif dan tidak ada lagi konflik yang terjadi. (03)

_ASRI_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

  1. KM Kaula

    KM Kaula

    02 Mei, 2014

    boleh kita menolak tapi cari jalan damai jangan anarkis


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan