logoblog

Cari

Tutup Iklan

Pengunjung Pertanyakan Pelayanan TNGR

Pengunjung Pertanyakan Pelayanan TNGR

KM. Sukamulia – Ahir-ahir ini Pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani kerap mendapatkan pengaduan dan kritisan pedas atas kurangnya kenyamanan dan pelayanan

Pengaduan Lain-Lain

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
26 Juli, 2016 01:08:28
Pengaduan Lain-Lain
Komentar: 0
Dibaca: 14322 Kali

KM. Sukamulia – Ahir-ahir ini Pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani kerap mendapatkan pengaduan dan kritisan pedas atas kurangnya kenyamanan dan pelayanan yang diberikan kepada para pengunjungnya. Terkait dengan hal tersebut, terjadi kisruh yang cukup hangat diperbincangkan di media sosial. Banyak pengunjung yang membuat postingan tidak enak atas pelayanan yang diberikan oleh pengelola TNGR, masalah pemasangan identitas Sagara Anak, belum lagi masalah sampah dan masalah sumber mata air.

Banyak pengunjung yang pertanyakan pelayanan yang diselenggarakan oleh pengelola TNGR. Mulai dari masalah evakuasi IKE (Korban yang tenggelam di pemandian air hangat sekitar Danau Sagara Anak), masalah Camping Area Danau Sagara Anak yang semerawut, masalah sampah yang tidak kunjung teratasi, masalah mata air di beberapa pos yang sepertinya tidak dipelihara sehingga pengunjung kesulitan untuk mendapatkan air selama dalam perjalanan, masalah maraknya illegal loging di sekitaran hutan Rinjani dan sebagainya.

Belum ada penyelesaian untuk permasalahan yang satu timbul lagi permasalahan baru sehingga sepertinya pengelola TNGR telah ditimbuni oleh permasalahan, bahkan dua hari terahir ini ada kasus baru TNGR yang marak sekali dibicarakan di medsos. Masalah tersebut adalah masalah evakuasi terhadap Heru (salah seorang pengunjung yang mengalami sakit parah saat berada di area wisata gunung Rinjani.

Terkait dengan masalah Heru, pada tanggal 23 Juli 2016, Pesona Lombok Utara memposting sebuah informasi mengenai kelalaian pengelola TNGR dalam memberikan pelayanan kepada pengunjungnya yang sengat membutuhkan bantuan. Dalam postingan itu Pesona Lombok Utara bercerita Heru Saputra
dengan rombongannya berjumlah 9 orang, mulai mendaki pada tanggal 11/07/2016.
Pada tanggal 15/07/2016 keluarga Heru (koraban)/kakak dari Heru menghubungi saya bahwa adeknya (Heru) dalam keadaan sakit parah/Hivertemia tingkat lanjut dan saya langsung melaporkan hal trsebut ke pihak TNGR supaya segera mengirimkan bantuan/evakuasi, pihak TNGR pun segera mengecek daftar pendaki yang naik pada tagal trsebut dan mereka pun menemukan nama-nama dari semua rombongan Heru. Dengan demikian Heru dan rombongan adalah pendaki resmi yang membeli tiket).

Singkat cerita TNGR tidak segera mengevakuasi Heru, entah dengan alasan apa evakuasi tidak diberikan, yang padahal Heru adalah pendaki resmi yang mana masuk di dalam tanggung jawab dari pihak pengelola TNGR. Heru-pun di evakuasi oleh team BASARNAS Mataram sebagaimana yang terjadi pada proses evakuasi IKE yang waktu itu pihak TNGR tidak segera mengevakuasinya sebab IKE adalah pengunjung tidak resmi. Lalu di mana letak kebijakan pengelola TNGR dalam situasi darurat seperti ini, apakah ada beda dari pendaki ilegal dengan yang legal, di pergunakan dimanakah dana evakuasi yang di sediakan setiap tahunnya yang berjumlah ratusan juta...?????

Seharusnya pihak dari TNGR harus lebih sigap dalam menanggapi masalah sperti ini, mengenai dana sebaiknya di bicarakan di belakang setelah korban trselamatkan, kenapa tidak menggunakan dana evakuasinya.?????

Satu lagi cerita dari teman-teman Relawan Peduli Rinjani yang akan melakukan Clean Up Rinjani yang di wajibkan membayar tiket masuk, seperti pendaki lain pada umumnya.. bahkan relawanpun harus membeli tiket, jika terjadi apa-apa pun bakal tidak di evakuasi,,

Pada ujung postingannya Pesona Lombok Utara berkata seperti ini: ANEH… Apakah TNGR peduli Rinjani ?. Peduli pada apanya ?. Apakah TNGR money collector ?. Mari kita BERSIHKAN... (Sumber: Pesona Lombok Utara/23 Juli 2016: 12.26.

 

Baca Juga :


Postingan ini kemudian dibagikan oleh para pengguna medsos yang sempat membacanya. Postingan ini kemudian mendapatkan banyak komentar yang sebagian besarnya berungkap tidak sedap terhadap pelayanan yang diberikan oleh pihak TNGR. Meskipun dalam postingan itu terdapat komentar yang menjelaskan secara panjang lebar mengenai apa dan bagaimana prosedur evakuasi yang dimiliki oleh pihak TNGR namun tetap saja lebih banyak komentar yang mempertanyakan berbagai masalah yang terkait dengan pelayanan pihak TNGR.

Pada dasarnya, permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh pengelola TNGR adalah masalah yang wajar-wajar saja sebab TNGR bukanlah hal kecil, lebih-lebih masalah pendakian Rinjani, namun demikian pihak TNGR setidaknya memiliki kesigapan terhadap masalah-masalah tersebut. Artinya pihak TNGR jangan sampai melkukan kesalalaian dalam masalah evakuasi pengunjung, lebih-lebih jika itu pengunjung resmi.

Pengunjung juga harus sadar diri, ikutilah segenap aturan pendakian supaya permasalahan dapat diminimalisir. Misalnya dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak hewan, tumbuhan ataupun benda-benda yang disiapkan untuk kenyaman pengunjung, jika dalam keadaan sakit supaya jangan melakukan pendakian dan lain sebainya. Misalnya saja kasus Heru yang dibesar-besarkan, korban memang sudah tau bahwa dirinya mengidap penyakit kronis tapi ia nekat melakukan tuk melakukan pendakian, itu mungkin sebab besarnya keinginan dalam dirinya untuk menikmati destinasi wisata gunung Rinjani, namun sikon memang harus diperhatikan. Jadi dalam hal ini kami tidak berani menyalahkan siapapun sebab masing-masing punya alasan kuat.

TNGR adalah miliki kita bersama, bukan hanya milik para pengelolanya saja, untuk itu kenyamanan dan kelestariannya harus dijaga bersama. Untuk itu, kami sangat berharap supaya pemerintah dan pihak-pihak terkait memberikan perhatian terhadap pengelolaan TNGR. Pihak pengelola TNGR juga hendaknya terus membenahi diri supaya tidak terjadi lagi permasalahan-permasalahan yang membuat nama baik TNGR rusak di mata dunia. Demikian juga pengunjung supaya memperhatikan kode etik pendakian supaya tidak terjadi permasalahan yang ujung-ujungnya pihak pengelola yang menjadi kambing hitam atas permasalahan yang ditemukannya.

_By. Asri The Gila_ () -01



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan