Mata Air Bisa Berubah Jadi Air Mata

Kawasan Utara Lombok Tengah yang sering disingkat KAULA, adalah Wilayah Lombok Tengah bagian utara yang terdiri dari Kecamatan Janapria, Kopang, Batukliang, Batukliang Utara dan Pringgerate, adalah wilayah yang harus konsen di Konservasi. Sebagaimana tertuang dalam RTRW Lombok Tengah. bahwa Lombok tengah, dipetakan menjadi tiga zona yaitu Agro, Tourism dan Marine yang di singkat “ATM”.

Istilah ATM ini, oleh Bupati Lombok Tengah H. Suhaili FT. mengistilahkan ketiga Zona itu dengan istilah “Aik Meneng (Jernih)”,  “Mpak (Ikan) Bau” Dan “Tunjung Tilah”. Kedua istilah ini memang berbeda, tetapi esensinya sama “ Agro” yang diistilahkan Bupati dengan istilah “Aik Meneng” adalah wilayah Lereng Rinjani yang terdiri dari lima Kecamatan yang harus konsen dengan konservasi. “Tourism” yang diistilahkan  “Mpak Bau” adalah tempat yang harus konsen pada Produksi dan Jasa, di wilayah ini pemerintah harus mendapatkan keuntungan secara financial terutama sekali melalui pengembangan Wisata, sementara “Marine” yang diistilah “Tujung Tilah” adalah sebuah wilayah yang lautnya harus terjaga dengan baik.

Jika ketiga pemetaan wilayah ini berjalan dengan baik, maka bisa dipastikan ketiga wilayah ini akan saling bahu membahu dalam mengembangkan wilayah masing-masing karena tidak ada persaingan diantara ketiganya, yang ada justru saling tunjang dan saling dukung karena ketiganya mempunya garapan yang berbeda-beda tapi antara satu dengan lainnya saling dukung.

Namun sedikit hal yang amat disayangkan, Kawasan Utara Lombok Tengah yang terkenal dengan kesuburannya bahkan sering dikatakan sebagai paru-parunya Lombok tengah, karena suplay airnya yang hampir ke seluruh wilayah Lombok tengah tanpa kecuali sehingga di nobatkan menjadi wilayah yang harus konsen di konservasi justru ada sedikit deviasi.

Deviasi yang dimaksud disini sebagaimana di ungkap oleh salah seorang warga yang namanya tidak mau disebut disini adalah, adanya penambangan di daerah konservasi. Ironis memang bahwa di daerah yang mestinya harus konsen di penghijauan, pemeliharaan mata air, reboisasi dan upaya-upaya lain sebagai bentuk menjaga lingkungan justru penambangan pasir meraja lela.

Melihat gejala ini masyarakat kemudian jadi bingung, “Ini salah siapa?” kalau ini dibilang kesalahan masyarakat, mereka punya ijin untuk melakukan itu, kalau di bilang salah pemerintah, yaaaaa, jadi bingung menentukan salah siapa?

Yang pasti terlepas dari “ini salah siapa”, mestinya semua pihak harus peduli terhadap kondisi ini, bisa dibayangkan Kaula yang hari ini kena dengan ungkapan “gemah ripah loh jinawi” karena banyak “Mata Air yang mengalir dari tubuhnya, boleh jadi jika hal ini terus dibiarkan akan menjadi “Air Mata” yang mengalir dari berpasang-pasang mata warga, terutama sekali mata para petani. [] - 01

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru