Tumpukan Sampah Mandalika, Siapa Yang Urus?

Berbelanja dipasar tradisional merupakan budaya yang sudah terbiasa bagi masyarakat kalangan menengah kebawah terutama masyarakat yang berada dipinggiran perkotaan dan masyarakat pedesaan, melaksanakan aktivitas berbelanja yang nyaman dan menyenangkan adalah impian yang tak kunjung terwujud bagi masyarakat kelas bawah karena kebanyakan pasar  traditional masih identik dengan kesemrawutan dan kekumuhan, pedagang dan pembeli dalam mekakukan transaksi tidak tertata dengan rapi baik lokasi maupun kios pedagang. Ditambah lagi dengan tumpukan sampah dimana-mana.

Seperti yang terlihat dipasar induk Mandalika Kota Mataram, tumpukan sampah menjadi pemandangan sehari-hari dan sangat mengganggu para pedagang dan pembeli yang setiap hari melakukan transaksi dipasar tersebut. Tepatnya sebelah selatan pasar terbesar di NTB ini tumpukan sampah yang meluber sampai setengah badan jalan sepanjang  50 meter  disisi kanan dan kiri jalan menimbulkan bau menyengat dan sangat mengganggu, dari pengamatan penulis yang hampir setiap hari melewati jalan tersebut untuk berbelanja dipasar mandalika semua warga dipastikan menutup hidung karena baunya, ditambah lagi kemacetan yang diakibatkan karena jalan semakin menyempit akibat sampah berserakan ditengah jalan.

Dan anehnya, tidak ada tempat khusus yang disediakan oleh pengelola pasar sebagai tempat pembuangan sementara berupa bak dan kontainer penapungan sehingga para pedagang dan warga sekitar membuang sampah seenaknya saja, tumpukan sampah terlihat menggunung dan dibiarkan sampai seminggu lebih baru datang truk penganggkut sampah dari Dinas Kebersihan untuk mengambilnya dan bisa dipastikan keesokan harinya sampah akan kembali menumpuk lagi, menurut Ramli seorang tukang ojek yang biasa mangkal ditempat tersebut mengungkapkan, idealnya sampah pasar Mandalika itu diangkut setiap hari oleh Dinas Kebersihan Kota Mataram namun kenyataan kadang sampai seminggu lebih baru datang petugas untuk mengambilnya.

Hal senada juga dikatakan oleh Mas Nok, pemilik kios buah-buahan yang tepat berada didepan jalan tempat tumpukan sampah, sangat  mengeluhkan kondisi itu “semua pedagang disekitar sini sangat merasa terganggu dengan tumpukan sampah yang tidak beraturan karena mengeluarkan bau busuk yang sangat menyengat sehingga pembeli kadang enggan untuk singgah berbelanja disekitar sini.” Dan pria asal Jawa ini sangat berharap pihak dinas kebersihan rutin mengangkut sampah pasar Mandalika ini setiap hari agar tidak mengganggu pedagang, pembeli dan warga yang melewati jalan ini.

Dulu ditempat ini pernah disediakan kontainer sampah, namun itu hanya bertahan  beberapa bulan saja selanjutnya tidak keliatan lagi kata Lukman seorang warga sekitar,  kontainer sampah itu tidak ditaruh lagi karena para pedagang dan warga sekitar tidak mau membuang sampah kedalam kontainer, pedagang dan warga membuang sampah sembarangan disekitar kontainer oleh karena itu menurut  Lukman yang pernah berdiskusi dengan seorang petugas dari Dinas Kebersihan Kota Mataram mengatakan adanya kontainer bak sampah hanya sia-sia saja karena tidak ada kesadaran dari pelaku penghasil sampah dipasar tersebut.

Pemandangan seperti ini bukan terdapat disitu saja namun dari hasil pengamatan penulis disebelah utara pasar Induk di Ibukota Provinsi NTB itu juga terlihat pemandangan yang sama tepatnya di sebelah barat terminal, dan dititik titik lain juga sama, seperti dijalan Gora Turide dekat GOR Turide Mataram sampah juga berserakan sampai ke badan jalan. Tentunya ini semua sangat perlu mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Kota Mataran dalam hal ini Dinas Kebersihan.

Sebagaimana diketahui kota Mataram sebagai Ibukota Provinsi NTB 2 tahun berturut-turut  dari 2012 dan 2013 meraih penghargaan Adipura, sebuah penghargaan bagi Kota yang dianggap mempunyai tingkat kebersihan yang tinggi dari kementrian Lingkungan Hidup, namun ditahun ini Pemerintah Kota Mataram gagal meraih penghargaan itu lagi, mudah-mudahan ini menjadi bahan evaluasi bagi Pemkot untuk lebih bekerja keras menangani masalah sampah dikota yang bermotto Maju Dan Religius, sudah saatnya pemeritah membuat sebuah sistem mengelolaan sampah yang baik dan disamping itu juga tentunya usaha lebih giat lagi untuk merubah pola pikir masyarakat sehingga tidak terbiasa membuang sampah disembarang tempat. (Abdul Satar)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru