Tambora Menyapa Dunia Kurang Sosialisasi

Warga Tambora dan sekitarnya masih banyak yang tidak tahu program Tambora Menyapa Dunia. Event akbar yang digadang-gadang pemerintah akan mampu menghadirkan dua juta wisatawan itu masih disikapi dingin dan bahkan penuh tanya. Apa sih program Tambora Menyapa Dunia dan apa saja kegiatannya ?. Meski baliho dan spanduk marak terpajang di sudut jalan dan perkantoran pemerintah, namun itu hanyalah jargon yang belum mampu dipahami secara menyeluruh oleh mayarakat.  

“ Memang Baliho ada di kantor camat dan di beberapa ruas jalan, namun kami masih belum paham apa saja event Tambora Menyapa Dunia. Apakah kami hanya jadi penonton iring-iringan kendaraan pejabat dan hiruk pikuknya nanti.? “ Irwan (31 Tahun) warga Desa Nanga Miro kecamatan Pekat Kabupaten Dompu mempertanyakan keterlibatan apa yang harus diperankan warga dalam rangka event akbar ini. Dikatakannya, potensi-potensi di sekitar Tambora cukup banyak seperti pantai Beranti, Pulau Satonda, Taman Fosil di ujung barat Nanga Miro. “Tetapi sejauh ini belum ada satupun aparat pemerintah yang turun untuk mengajak masyarakat menata tempat-tempat tersebut. “ Lanjut pria yang setiap hari bekerja di kantor Pegadean di Kadindi ini.

Jika warga di lingkar selatan Tambora sudah banyak yang melihat baliho-baliho di jalanan dan perkantoran, warga di lingkar utara mulai dari Kawinda Na’e,Kawinda To’i, Sori Panihi, Sori Katupa, Oi Saro, Piong hingga Kore di kecamatan Sanggar sama sekali tidak mengetahui tentang program Tambora Menyapa Dunia. “ Informasi tentang event itu sangat minim untuk kami yang di lingkar utara. PadahalTambora tidak hanya di lingkar selatan dan di pusat gunung api Tambora. Sanggar juga memiliki potensi alam,warisan sejarah dan budaya untuk diangkat dan dipromosikan. “ Ungkap Syafiun Maman (62 tahun) pensiunan kepala cabang dinas Dikpora kecamatan Sanggar. Dikatakannya, peninggalan kerajaan Sanggar yang berpadu dengan keindahan alam di Sanggar dan sekitarnya adalah asset berharga untuk dikembangkan.

            Suparno (52 Tahun) Juru pelihara situs Tambora di desa Oi Bura kecamatan Tambora memang mengetahui ada kegiatan Tambora Menyapa Dunia, namum dirinya belum tahu apa saja program dan kegiatan di dalamnya. “ apakah wisatawan akan berkunjung kesini, dan apa hanya begini-begini saja. “ Suparno balik bertanya kepada saya dan Tim Natgeo Indonesia yang menyambanginya. Suparno mengharapkan jika dibangun museum dan renovasi Rumah Atas pesanggarahan Tambora jangan sampai merubah nilai historis,terutama bentuk dan struktur bangunannya.

Dedy Kurniawan (26 Tahun) warga Kota Bima menilai sosialisasi Tambora Menyapa Dunia memang gencar dilakukan di berbagai media, terutama media social. Tapi minim sosialisasi untuk melibatkan peran masyarakat terutama di kawasan Tambora. “ Saya melihat promosinya lebih banyak keluar daripada penyiapan potensi yang ada di masyarakat. Misalnya spot-spot menarik ditentukan dan masyarakat diajak untuk bekerja sama. “ Saran Dedy yang juga mendampingi Tim Natgeo Indonesia menjelajahi Tambora. (*alan)  - 03

 

 
 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru