Buruh Migran Dan Sumbangan Untuk Negara


Penulis : Zainul Fikri, S.H Koordinator LBH Lombok Timur

Lotim. KM_Jumlah Buruh Migran Indonesia (BMI) atau (sebutan yang biasa) Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari tahun ke tahun semakin mengalami peningkatan, demikian juga uang kiriman (selanjutnya disebut remittance) yang tercatat sebagai devisa juga mengalami peningkatan. Sejauh ini peningkatan jumlah TKI dan remittance yang dikirim belum diimbangi dengan penanganan secara luas dan nyata terhadap berbagai persoalan yang menimpa para TKI ini. Permasalahan yang timbul mulai dari pra pemberangkatan, pemberangkatan, penempatan, pemulangan, sampai pada setelah berada di daerah asalnya.

Berbelit-belitnya pengurusan dokumen dan pemalsuan dokumen adalah contoh kecil masalah pra pemberangkatan. Ketidaksesuaian antara job order dalam kontrak kerja dengan kenyataan saat penempatan, siksaan fisik, mengalami stress, depresi adalah contoh masalah yang dialami TKI di tempat kerja. Deportasi, terjebak percaloan, perampokkan, adalah contoh kecil masalah yang dihadapi TKI pada saat pemulangan. Pengurusan asuransi (klaim asuransi) yang ribet, mahal, bertele-tele juga contoh lain yang dialami para TKI.

Walaupun demikian faktanya tidak menyurutkan minat masyarakat untuk bekerja di luar negeri menjadi TKI. Hal ini karena dorongan kondisi ekonomi (pribadi maupun keluarga) yang tidak memberikan peluang di daerah asalnya untuk ke arah yang lebih baik. Lapangan kerja yang sulit, upah kerja yang rendah, sementara kebutuhan hidup terus meningkat dari hari ke hari. Selain itu, banyak juga para TKI yang berhasil mengumpulkan dan mengirim uang menjadi pendorong dan ketertarikan bagi yang lain untuk mengikuti kiprah bekerja di luar negeri.

PERTANYAANNYA:
Mengapa TKI yang dikatakan berhasil tidak mampu merubah prekonomiannya/keluarga, dan mengapa mereka cendrung untuk kembali bekerja lagi di luar negeri (bermigrasi berulang-ulang/keto kete)?
Apa yang menyebabkan orang/individu mengalami ketergantungan menjadi TKI dan bagaimana meretas ketergantungan orang/individu agar tidak yang berulang-ulang/keto kete?

Kepercayaan sebagian besar orang/individu yang menjadi TKI bahwasanya persoalan-persoalan ekonomi dalam pemenuhan kebutuhan berupa rumah, kendaraan, dan kebutuhan konsumtif lainnya serta lilitan utang yang menimpa, ketersediaan lapangan kerja untuk lahan bekerja yang kurang, kalaupun ada pekerjaan sifatnya tidak tetap dan pendapatan/ongkos kerja rendah menjadi alasan utama sekaligus diyakini akan berubah apabila mereka pergi bekerja di luar negeri.

Keyakinan tersebut melekat pada sebagian besar TKI sehingga dengan hanya bermodalkan semangat bekerja dan bayangan hasil banyak walaupun tidak didukung oleh pengetahuan yang memadai mereka tetap berangkat ke negara tujuan. Faktanya bahwa banyak yang berhasil mengumpulkan remittance yang dikirim kepada keluarganya dan banyak juga yang tidak berhasil bahkan membawa derita baru berupa cacat fisik dan mental dan bertambahnya hutang.

Apabila diperhatikan dengan seksama, keberhasilan yang diperoleh di negara tujuan penggunaannya lebih banyak diperuntukan/digunakan pada keperluan membangun rumah, membeli kendaraan, membeli barang-barang lainnya yang sifatnya konsumtif. Sangat sedikit sekali para TKI yang mampu memanfaatkan/menggunakannya sebagai modal/investasi untuk membangun usaha yang produktif. Sehingga tidak heran mereka berbondong-bondong lagi menjadi TKI meskipun dengan syarat hutang untuk biaya pemberangkatan, ibarat daur ulang. Ketergantungan orang/individu sebagai TKI seakan merupakan sebuah rantai yang berhasil menjadi pengikat abadi yang sulit untuk diobati.

Beberapa hal yang menjadi faktor penyebab terjadinya ketergantungan TKI untuk bekerja di luar negeri diantaranya; Purna TKI tidak mempunyai kemampuan mengelola peruntukan keuangan hasil kerjanya, purna TKI belum mempunyai kemampuan untuk merumuskan visi/tujuannya. Selain itu banyak TKI tidak memanfaatkan skill, pengetahuan yang didapat saat di negara tujuan untuk dipraktikan dan dikembangkan ketika berada di daerah asalnya. [] - 05

 
 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru